Selasa, 22 Juli 2008

Skandal Seks DPR: Konfrontir Max-Desi Tidak Diatur dalam Tata Beracara BK

Jakarta - Anggota DPR dari FPDIP Max Moein membantah 100 persen telah memperkosa Desi Firdianti. Eks sekretaris ini menantang sang bos untuk dikonfrontir. Tetapi, konfrontir tidak diatur dalam tata beracara Badan Kehormatan (BK) DPR.

"Konfrontir tidak diatur dalam tata beracara BK. Konfrontir tergantung pada kedua pihak apakah bersedia atau tidak. Karena, tidak semua orang mau berkonfrontatif secara langsung. Untuk itu, BK tidak mengambil langkah tersebut," kata Wakil Ketua BK Gayus Lumbuun kepada detikcom, Jumat (27/6/2008).

Dikatakan Gayus, BK telah memanggil Max maupun Desi. Keduanya tidak memiliki bukti yang disahkan oleh pihak yang berwenang.

"Dalam aturan, semua keputusan BK harus berdasarkan pembuktian. Ini tidak dimiliki oleh kedua pihak. Misalnya, bercak darah, membawa pisau itu kan harus diuji di lab, divisum. BK tidak mempunyai labkrim. Ini sudah masuk ranah pidana, bukan etika," papar Gayus.

Menurut dia, BK segera akan menggelar rapat pleno untuk mengambil keputusan atas kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Max Moein.
"BK akan memutuskan apakah kasus ini dibawa ke ranah hukum atau tidak," ujar politisi PDIP ini.

Dalam kesempatan terpisah, anggota BK Anshari Siregar menyampaikan hal senada. "BK akan rapat membicarakan langkah selanjutnya. Apakah dikonfrontir atau perkara Desi diserahkan ke ranah hukum atau polisi," ujarnya.

Max Moein membantah 100 persen telah melakukan pelecehan seksual terhadap Desi. Desi pun siap dikonfrontasi dengan Max. Desi bahkan telah menyimpan sejumlah bukti seperti bercak darah.(aan/nrl)

sumber: www.detik.com

Tidak ada komentar: